Tampilkan postingan dengan label Mereka Punya Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mereka Punya Cerita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 September 2012

Berlin, Sebuah Dialog dengan Dua Masa

 
 

Hari masih pagi ketika saya menjejakkan kaki di Berlin Hauptbahnhof, stasiun kereta api utama di Berlin, ibukota Jerman. Bayangan saya pada stasiun kereta api tua berarsitektur Baroque atau Roman sirna, karena stasiun ini berstruktur modern dengan kaca dan besi berpadu jadi satu, mempersilakan sinar matahari masuk dengan bebasnya sehingga tidak diperlukan banyak penerangan. Tetap cantik.

Saya sempat termenung sebentar di peron, memperhatikan orang-orang berlalu-lalang. Barangkali mereka akan bertemu dengan keluarganya di kota lain. Ada anak kecil yang berlarian, lalu kembali ke orang tuanya, menunggu kereta ke ujung Berlin. Apapun tujuan mereka, peron kereta ini menjadi persinggahan.
Wilayah Berlin sangat masif ukurannya. Sebagai perbandingan, daerah khusus ibukota Jakarta bahkan hanya 80% dari total luas wilayah Berlin. Untungnya, kota ini dihubungkan oleh sistem transportasi massal yang memadai, terutama sistem rel dan bis. 


Senefelderplatz di utara distrik (bezirke) Mitte adalah stasiun tujuan saya.
Transit di Alexanderplatz, saya minum segelas susu hangat dan makan siang roti isi. Tidak lebih dari €5. “Warung” ini mungil, dengan kursi tinggi tanpa sandaran, meja kecil kota terselimuti taplak kotak-kotak hijau dan putih. Semua pesanan dilakukan di etalase, pembayaran di kasir dan makanan akan diantarkan. Saya duduk di dekat jendela. Matahari sangat bersahabat. Beberapa orang duduk di luar. Tram yang turun di samping stasiun menurunkan anak muda, bapak yang menggendong anak, pasangan renta yang berjalan pelan dengan tongkatnya. Ada yang berjaket, blazer dan berjas. Ada anak yang kemudian lapar, dan meminta ayahnya singgah ke tempat saya singgah.

Alexanderplatz berfungsi sebagai pemadu moda transportasi yang mengakomodasi dua jenis moda, yakni S-Bahn/U-Bahn (kereta api dalam kota, S dan U mengisyaratkan jenis kereta, di atas jalan/strasse atau di bawah tanah/unter) dan tram. Di sini juga terdapat banyak toko dan atraksi, letaknya juga di pusat kota.



Sistem S/U-Bahn di Berlin menggunakan tarif berdasarkan zona. Kota dibagi menjadi tiga zona, dan zona yang paling murah bertarif €2.30. Anda membeli tiket di sebuah mesin, dengan memilih zona/stasiun yang ingin dituju. Jangan lupa, di Berlin, anda harus melakukan validasi tiket dengan mesin kecil. Ingat kondektur kereta yang membolongkan tiket? Sama seperti itu, hanya ini dilakukan di sebuah mesin. Tiket ini berlaku dua jam setelah divalidasi, hanya berlaku di zona yang sama dan tidak boleh pulang pergi di jalur yang sama. Walaupun saya sudah mampir Alexanderplatz, saya tidak perlu beli tiket lagi karena masih dalam batas dua jam.
Saya lihat U-Bahn menggunakan gerbong yang agak klasik, rasanya seperti masih di Berlin dekade 80-an. Terlihat grafiti/vandalisme di stasiun, badan dan interior gerbong. Stensil bergambarkan Bradenburg Gate melapisi kaca, seolah mengkonfirmasikan memang saya ada di Berlin.

Senefelderplatz ada di Mitte. Mitte adalah distrik yang cukup sentral dan trendi, menyimpan hampir semua atraksi Berlin yang dipromosikan oleh agen perjalanan: Bradenburg Gate, Berliner Dom, gedung Reichstag, Weltzeituhr, Deutsche Guggenheim, Fernsehturm/TV Tower (menara televisi “asparagus”), dan masih banyak lagi. Beberapa titik lokasi bersejarah ketika Berlin dipisahkan oleh sebuah tembok juga ada di distrik ini.

Tidak sulit untuk berkelling Mitte dan menikmati hampir seluruh atraksi utama Berlin dalam sehari dengan berjalan kaki. Neue Synagogue dapat diraih dalam sekitar 15 menit, tempat ibadah kaum Yahudi yang dibangun pada abad ke-18, berarsitektur Moor (ingat Alhambra). Bradenburg Gate dapat diraih dalam 15 menit dari Neue Synagogue. Gerbang ini dibangun sebagai pintu masuk untuk pusat pemerintahan kerajaan Prussia. Dahulu, lokasi ini adalah bagian dari benteng berparit. Sekarang, ia menjadi monumen kebanggaan bangsa Jerman dan bangsa Eropa, namun fungsinya hampir sudah tidak ada. Sekilas saya lihat di koin Euro produksi Jerman, maka terdapat Bradenburg Gate di sana. Berjalan masuk ke gerbang ini, Anda akan sampai di Unter den Linden, sebuah bulevar panjang yang menghubungkan pejalan kaki ke Friedrichstrasse (distrik belanja utama) dan Checkpoint Charlie, salah satu checkpoint perbatasan yang penting dalam sejarah Berlin Barat dan Timur.

Menurut saya, yang paling menarik dari Berlin adalah sejarah politiknya. Setelah perang dunia II, ada perjanjian empat pihak antara sekutu (Amerika, Perancis dan Inggris) dan Uni Soviet yang mengatakan bahwa Jerman akan dikelola oleh empat negara tersebut, di mana wilayahnya dibagi menjadi sektor Amerika, sektor Perancis, sektor Inggris dan sektor Uni Soviet. Bagian Jerman yang sekarang masuk ke wilayah Polandia dinyatakan sudah merdeka. Berlin, sebagai ibukota de facto, juga mengikuti pembagian pemerintahan ini, dengan empat sektor juga. Sektor sekutu di bagian barat, dan sektor Uni Soviet di bagian timur. Pemerintahan bersama ini bersifat sementara, dan Jerman direncanakan akan menjadi satu dan independen pada akhirnya. Namun, karena terjadi ketegangan lanjutan antara sekutu dan Uni Soviet pada masa Perang Dingin, Berlin, pada akhirnya, terbelah dua dan Uni Soviet membangun tembok Berlin yang memisahkan kota tersebut. Negara Jerman pun terbelah dua, menjadi Jerman Barat dan Jerman Timur.

Situasi yang lebih menarik lagi adalah seluruh Berlin terletak di wilayah Jerman Timur. Otomatis, wilayah Berlin Barat adalah sebuah exclave, wilayah yang terkurung di negara Jerman Timur, tetapi menjadi bagian terpisah dari negara Jerman Barat. Secara hukum ada beberapa perbedaan yang meregulasi hak/kewajiban dan status warga Berlin Barat yang membedakan mereka dengan warga negara Jerman Barat, tetapi pada dasarnya mereka adalah warga negara Jerman Barat. Keadaan ini berlangsung hampir tiga dekade sampai tembok Berlin diruntuhkan mendekati dekade 90-an. Kompleks, memang.

Peninggalan tembok Berlin ini masih terlihat di Berlin modern, namun banyak yang sudah tidak utuh. Beberapa papan pengumuman/penanda perbatasan pun masih ada, bertuliskan, “You are now leaving the American sector!”. Bagian yang sudah diruntuhkan ditandari dengan segaris perunggu yang ditanamkan di atas trotoar, bertuliskan: “BERLINER MAUER 1961–1989”. “Mauer” artinya tembok.



Tembok Berlin menjadi saksi bagaimana beberapa orang melarikan diri dan merenggut nyawanya sendiri. Banyak dari mereka yang tewas ditembak karena mencoba melarikan diri dari Berlin Timur ke Berlin Barat. Namun, tidak semuanya gagal. Ada prajurit Uni Soviet yang bernama Conrad Schumann yang berani melompat dari Jerman Timur ke Jerman Barat saat tembok masih dibangun, dan pembatasan masih sebatas kawat berduri. Conrad selamat dan dapat menyaksikan Tembok Berlin runtuh tahun 1989. Ia wafat pada tahun 1998. Seorang jurnalis mengambil fotonya ketika dia melompat dan foto tersebut menjadi ikon Perang Dingin.

Melihat Berlin sekarang, semuanya berubah. Ia sudah menjadi kota modern, berukuran masif dan makmur. Ia menjadi pusat pemerintahan Jerman, di mana anggota legislatif bertemu di sini untuk menentukan arah negara. 



Saya kagum melihat gedung Reichstag, gedung parlemennya. Pengunjung bisa menyaksikan bagian dalam gedung ini, gratis. Pemerintah memutuskan untuk “membuka” ruang publik di sekitar parlemennya, di mana pengunjung bebas berjalan kaki melihat kantor pegawai negeri sipil, tempat kongres dan gedung Reichstag yang tua yang dilengkapi dengan hamparan lapangan hijau luas. Di tengah-tengah pusat pemerintahan ini terdapat sungai, yang kabarnya, pernah menjadi saksi pertumpahan darah mereka yang melarikan diri dari Jerman Timur ke Jerman Barat. Saya bergidik, tapi biarkanlah itu jadi saksi sejarah dan pengingat bagi masyarakat Jerman akan masa lalu mereka.

Selasa, 28 Agustus 2012

Romantisnya George Town

Penang Hill
Penang Hill dari kereta pendaki.
Pernah dengar pameo “city for the newlyweds and the nearly deads“? George Town di Pulau Penang menurut saya adalah salah satu kota yang pantas mendapat julukan seperti ini. Kotanya yang tidak terlalu besar, tenang, damai, memberikan banyak kejutan yang menyenangkan. Berencana menikah di tahun naga ini? kenapa tidak menghabiskan bulan madu anda di kota ini? Ini dia beberapa titik yang bisa dikunjungi!

Pesona malam Penang Hill

Kereta ini bergerak ke atas dengan pelan, semakin lama semakin cepat dengan sudut ketinggian yang semakin curam. Saya yang memilih duduk di bagian depan kereta hanya bisa menahan napas, antara takut dan terlalu riang. Untung saja kereta ini baru direnovasi sehingga terlihat kuat dan bisa diandalkan, kalau tidak mungkin saya akan berpikiran macam-macam. Namun pikiran itu cepat teralihkan ketika kereta bergerak semakin ke atas, dan pemandangan indah terhampar di hadapan saya. Klik, klik! Pemandangan itu pun terabadikan dalam jepretan kamera saya.
Sempat ditutup selama beberapa waktu, tahun 2011 kemarin kereta Penang Hill itu kembali dibuka untuk umum. Begitu tiba di atas bukit, kita akan disambut oleh pemandangan yang luar biasa. Pemandangan kota George Town dan Pulau Penang akan terhampar luas di hadapan kita. Penang Bridge yang terkenal itupun terlihat seperti garis tipis dari kejauhan, menghubungkan Penang dengan semenanjung Malaysia. Di atas bukit ini pun kita akan menemukan kafe dan hotel, bagi yang berminat untuk menghabiskan waktu lebih lama.

Pemandangan dari Penang Hill ketika malam
Pemandangan dari Penang Hill ketika malam.
 
Ketika malam menjelang, langit perlahan akan berubah menjadi gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Penang Bridge pun mulai memunculkan warnanya, selintas garis kuning di atas laut yang menandakan eksistensinya. Ah! George Town dan Pulau Penang terlihat bercahaya! Indah sekali melihat pesona malam pulau ini dari ketinggian. Mendadak suasana menjadi sangat romantis, melihat kilau cahaya malam kota dari ketinggian. Beberapa turis yang datang bersama pasangan, semakin dekat berpelukan. Mungkin selain udara malam yang memang cukup dingin di ketinggian, pasangan ini juga berusaha menyimpan memori romantis ini sebanyak mungkin dalam pikiran mereka. Tidak perlu berkata-kata ketika menikmati pemandangan indah seperti ini, cukup bergandengan tangan dan lihatlah senyum bahagia yang terpancar di muka pasangan. Such a romantic place to share with your beloved ones, right?
Menuju Penang Hill ini cukup menggunakan bus Rapid Penang no. 204 dari Komtar. Tidak usah khawatir harus turun di mana, karena Penang Hill ini adalah pemberhentian terakhir. Siapkan uang pas, sebesar RM2.70 sebelum naik bus ini. Ingat, uang pas ya, karena supir bus tidak akan memberikan kembalian. Nah, setelah membayar, pilihlah tempat duduk dengan nyaman, karena perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 30-40menit dari Pusat Kota. Sekedar ngopi-ngopi di kafe dengan pasangan, atau berminat untuk menghabiskan malam di hotel yang ada di Penang Hill juga bisa menjadi pilihan. Jika hanya menghabiskan waktu, belilah tiket pulang-pergi untuk naik dan turun dengan kereta, sebesar RM30 (dewasa) dan RM15 (anak-anak). Jika berminat menghabiskan malam, cukup beli tiket satu arah saja. Karena tiket yang dibeli hanya berlaku di hari pembelian saja.

Gurney Drive Hawker Centre

Selepas berpetualang mendaki bukit dengan kereta di Penang Hill, sempatkanlah mengisi perut di pusat jajanan yang terletak di pinggir pantai, “Gurney Drive Hawker Centre” namanya. Terletak tidak jauh dari pusat kota, pusat makanan serba ada ini menyediakan berbagai jenis makanan khas Penang yang memang terkenal dengan wisata kulinernya. Ingin mencoba char kwe tiauw khas Penang yang terkenal? di sini tempatnya. Siap-siap mengantri ya, karena peminat makanan ini cukup banyak. Teman saya saja harus sabar menunggu hampir 15 menit lamanya untuk menunggu giliran memesan makanan ini.

Pasembur
Pasembur.
 
Penjual pasembur
Penjual pasembur.
 
Satu lagi makanan yang harus dicoba, yakni “rojak” atau “pasembur”. Bermacam-macam gorengan dipotong dan disiram dengan bumbu merah manis pedas, lengkap dengan irisan timun. Lezat dan unik. Kalau char kwe tiauw tadi bisa dinikmati dengan RM3 saja, maka rojak ini paling tidak harus mengeluarkan RM6, karena harga gorengan RM2 per buah. Semakin banyak gorengan yang kita pesan, ya semakin mahal harganya.
Selepas makan, mari berjalan-jalan di pasar malam dadakan yang ada di sepanjang jalan dekat Gurney Drive Hawker Centre. Ada satu kios yang menjual magnet unik dengan tulisan-tulisan Cina yang lengkap dengan wisdomnya. Sang penjual semangat sekali menerangkan arti dari tulisan-tulisan Cina yang tertera di barang dagangannya. Salah satu teman saya akhirnya membeli satu buah magnet yang bertulisan “Wo Ai Ni”, atau “I Love You”!

Cinderamata magnet
Cinderamata magnet.
 
Di seberang pasar malam, terdapat jalur pejalan kaki sepanjang pantai yang biasa digunakan penduduk setempat untuk berbagai aktivitas. Ada pemuda yang sibuk berlari, keluarga yang mengajak anak-anaknya makan, dan tentu saja, untuk pasangan-pasangan baru yang ingin menikmati suasana malam kota George Town. Berjalan-jalan sepanjang trotoar, menikmati udara pantai dan suasana malam kota yang ramai sambil bergandengan tangan dengan pasangan, terdengar menarik bukan?
Menuju Gurney Drive Hawker Centre ini cukup naik bus Rapid Penang no. 103/101/304, ongkosnya RM1.40 dari Komtar. Letaknya tidak jauh dari kota, jadi katakan pada supir tempat tujuan kamu, agar tidak salah turun ya, karena letaknya yang tidak searah dengan jalur tujuan bus (kita harus menyeberang, dan jalan sedikit karena lokasi berada di tikungan jalan). Gurney Drive Hawker Centre ini terletak tidak jauh dari Gurney Plaza dan buka sampai tengah malam.

Semilir angin siang Esplanade

City Hall
City Hall.
 
Papan informasi bus gratis
Papan informasi bus gratis.
 
Di hari berikutnya, kamu dan pasangan bisa menghabiskan waktu berjalan-jalan di kota sepanjang hari. Saya menyebutnya, a heritage walk in a heritage city. Salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah daerah Padang Lama. Di sini banyak terdapat bangunan-bangunan dengan gaya Victoria yang wajib diabadikan. Lihat saja bangunan City Hall dan Town Hall yang cantik sekali dijadikan latar belakang foto bersama pasangan, seperti di Eropa!
Selepas berfoto, nikmatilah semilir angin siang di taman sepanjang Esplanade sambil duduk-duduk di tepi pantai bersama pasanganmu. Bertukar cerita apa saja dengan pasanganmu sembari menyantap es krim rasa kelapa yang segar, untuk menghilangkan dahaga di tengah panasnya udara kota George Town.
Kali ini saya menyarankan kamu untuk mencoba berkeliling kota dengan bus gratis yang disediakan pemerintah kota George Town. Bus ini berhenti di setiap titik pemberhentian dengan titik-titik menarik di seluruh kota. Untuk menuju City Hall ini, berhentilah di titik pemberhentian no. 17, di dekat dewan kota Penang. Untuk kembali ke Komtar, tunggu lagi bus gratis di titik pemberhentian no. 18, di Esplanade.

Love Chair Pinang Peranakan Mansion

"Kursi cinta"
“Kursi cinta” di Peranakan Mansion.
 
Peranakan Mansion
Peranakan Mansion.
 
Terletak di daerah Little India, Penang Peranakan Mansion ini terkenal dengan kebudayaan khas Cina peranakan yang cukup populer di Malaysia dahulu. Alkisah, seorang saudagar Cina kaya-raya menikah dengan perempuan Malaysia dan terlahirlah budaya Cina peranakan yang biasa disebut dengan budaya “baba-nyonya” ini. Cukup membayar RM10, kita dapat berkeliling rumah ini dan mengagumi semua perabotannya yang berkelas serta sejarah rumah ini yang sudah berumur lebih dari 100 tahun lamanya. Saran saya, mintalah bantuan pemandu yang ada untuk lebih memahami arti dari setiap ruangan dan perabotan yang ada di rumah ini.
Satu hal yang unik di rumah ini adalah “love chair” atau “kursi cinta” yang terletak di lantai dua. Love chair ini adalah kursi dari bahan rotan yang biasa dipakai oleh orang-orang zaman dahulu untuk berpacaran. Jika sedang berpacaran, mereka akan duduk berhadapan, bertukar cerita saling bertatapan. Namun, jika sedang bermusuhan, mereka akan duduk saling membelakangi, bercakap-cakap tanpa melihat muka pasangan.
Banyak titik foto menarik yang bisa diambil bersama pasangan di tempat ini. Namun, foto yang wajib diambil, tentu saja, pose kamu dan pasangan di love chair legendaris ya!
Menuju ke tempat ini, bisa ditempuh dengan bus gratis, mintalah supir untuk menurunkan kamu di titik pemberhentian no. 3, Little India. Jika terlalu lama menunggu bus, tinggal berjalan kaki tak jauh dari titik pemberhentian no. 18, Esplanade menuju Jalan Gereja. Cek situs web-nya untuk keterangan lebih lanjut.


Minggu, 12 Agustus 2012

Macet Saat Mudik: Bisakah Dihindari?


Mudik seolah sudah menjadi rutinitas tak terelakkan bagi masyarakat muslim di Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri tiba. Semua orang rela berdesak-desakan bahkan mengantri berhari-hari demi mendapatkan tiket angkutan. Bagi yang memilih menggunakan kendaraan pribadi akan ada satu teman setia yang selalu hadir saat arus mudik tiba. Macet. Ya, selama kurang lebih empat tahun saya mudik, kemacetan adalah menu wajib yang tak pernah absen. Herannya, tidak ada seorang pun yang kapok untuk mudik, termasuk saya. Dengan sedikit pengalaman mudik tersebut saya menemukan beberapa penyebab terjadinya kemacetan.

Jalan rusak. Satu hal yang selalu membuat saya heran, mengapa perbaikan jalan selalu dilakukan menjelang hari raya? Beberapa kota di wilayah Pantura memiliki jalan utama dengan kondisi tanah yang labil namun setiap hari selalu dilalui oleh kendaraan-kendaraan besar yang memuat berton-ton beban. Hal tersebut sudah pasti memicu rusaknya jalan utama. Ketika jalan tersebut tidak diperbaiki, maka akan membahayakan pengguna jalan atau minimal menimbulkan antrian yang berakhir dengan kemacetan. Namun realitanya, perbaikan jalan banyak dilakukan mendekati hari raya yang imbasnya sama saja yaitu kemacetan. Kalaupun perbaikan jalan sudah dimulai jauh hari sebelum hari raya, namun pengerjaannya tidak optimal dan berlangsung lama terkesan sengaja mengulur-ulur waktu.

Pengguna jalan yang tidak disiplin. Saat ada mobil atau kendaraan roda empat yang keluar dari jalur antrian dalam kondisi jalan yang sudah padat, biasanya komentar suami saya hanya satu, “Lihat saja, gara-gara satu mobil nanti pasti semua jadi macet.” Benar saja, satu kendaraan yang tidak sabar tersebut saat bertemu kendaraan lain dengan arus berlawanan otomatis terpaksa kembali ke antrian. Jika antrian sudah padat kendaraan tersebut akan memaksa masuk ke antrian yang berakibat body kendaraan justru malang melintang menutupi jalan kendaraan lainnya. Semua orang benci kemacetan, namun jika satu orang egois justru mengakibatkan kesusahan bagi orang lain maupun diri sendiri tentu bersabar lebih utama.

Kecelakaan lalu lintas. Mulai kecelakaan ringan hingga parah sudah pernah saya temui selama menjadi pengguna jalan raya. Namun berdasar data statistik yang ada, kecelakaan terbanyak adalah saat arus mudik dan arus balik. Saat arus mudik orang ingin segera sampai di kampung halaman bertemu sanak saudara sehingga pikiran sudah melanglang entah ke mana sedangkan badan masih di atas kendaraan. Saat arus balik kondisi badan sudah lelah sehingga ingin cepat sampai di rumah untuk beristirahat. Pikiran yang tidak konsentrasi mengemudi serta kondisi tubuh yang lelah bisa menyebabkan terjadinya kecerobohan atau kelalaian yang berakhir dengan kecelakaan. Terutama pengguna sepeda motor yang merasa body kendaraannya slim sehingga nekat selip sana sini tanpa memperhitungkan posisi kendaraan lain juga bisa membahayakan nyawa orang lain.

Jalur atau palang pintu kereta api adalah salah satu biang kerok kemacetan yang paling banyak saya temui saat mudik. Semakin banyak palang pintu perlintasan kereta api, semakin panjang pula perjalanan yang harus saya lalui. Jika dalam kondisi jalan normal saja volume kendaraan sudah sangat banyak dan jalanan ramai lancar. Bayangkan saja apabila kondisi tersebut dihambat oleh palang pintu kereta api, tentu kendaraan yang sedemikian banyaknya akan menumpuk dan akhirnya menjadi macet. Bukan berarti palang pintu kereta api harus dihilangkan, bahkan mungkin hal tersebut satu-satunya alasan kemacetan yang wajib diterima dengan sabar.

Pasar tradisional. Beberapa kota di Jawa Tengah memiliki pasar tradisional di tengah jalur utama. Bisa dibayangkan bagaimana ramainya pasar tradisional di Indonesia. Para penjual dan pembeli tidak hanya di dalam komplek pasar yang sudah disediakan namun juga meluber hingga ke tepi jalan. Sebagai pembeli, saya lebih senang berbelanja di luar pasar daripada harus ngubek-ubek ke dalam pasar karena menghemat waktu dan tenaga. Namun sebagai pemudik, saya tidak suka jika ada penjual atau pembeli yang memenuhi tepi jalan bahkan menyeberang jalan dengan seenaknya.

Truk besar bermuatan atau kendaraan besar yang berjalan lamban. Meski pada umumnya truk besar sarat muatan sudah jarang ditemui pada saat arus mudik namun beberapa kali kemacetan yang saya alami disebabkan oleh truk maupun bus besar yang dikemudikan dengan kecepatan rendah.
Kemacetan terkadang memang sulit untuk dihindari, namun beberapa tips di bawah ini mungkin bisa membantu untuk mangantisipasi kemacetan yang mungkin terjadi:
  • Memiliki GPS sangat membantu untuk mencari jalur-jalur alternatif yang bisa membuat Anda terhindar dari kemacetan selama berjam-jam.

  • Survei jalur alternatif pra lebaran juga bisa dilakukan bagi yang tidak memiliki GPS.

  • Bersabar dan berdisiplin saat berlalu lintas adalah faktor utama yang menyumbang lancarnya arus mudik dan menghindarkan pengguna jalan dari terjadinya kecelakaan.

  • Pilih jam mudik yang sepi dari pengguna jalan.

  • Pilih hari mudik jauh hari sebelum atau sesudah hari raya bagi yang tidak terikat dengan pekerjaan.

  • Naik angkutan umum terutama kereta api akan bebas kemacetan, namun tentu saja tidak bebas dari berdesakan dan berebut tempat duduk.

  • Hindari lampu lalin, pasar, jalur kereta atau tempat-tempat yang mengundang kemacetan bagi pemudik yang membawa kendaraan pribadi.
Sebelum terjebak macet ada beberapa tips kecil yang mungkin bisa dilakukan:
  • Selalu persiapkan semua kebutuhan keluarga terutama anak-anak dengan lengkap termasuk makanan dan mainan sehingga tidak harus berhenti di jalan dan menjaga anak tetap tenang di dalam kendaraan saat mengalami kemacetan.

  • Bawalah persiapan bekal baik berupa makanan, kopi, buku, mp3 atau benda lain yang dapat menjadi penghilang kebosanan.

  • Cek kondisi kendaraan dan jangan lupa selalu penuhi BBM sebagai antisipasi jika jauh dari SPBU saat terjadi kemacetan.

  • Pastikan sudah menunaikan sholat sebelum mudik sebagai antisipasi jika terjebak macet dan tidak bisa keluar dari antrian kendaraan.

  • Buatlah permainan seru atau obrolan seru dengan teman seperjalanan untuk menghilangkan kantuk atau menjaga mood saat terjadi kemacetan.

  • Istirahatlah atau singgah di obyek wisata maupun tempat refreshing lainnya untuk menghilangkan penat.

  • Jangan lupa untuk selalu bersabar saat menemui kemacetan maupun halangan saat mudik.
Mari kita jadikan mudik bukan hanya sekedar tradisi namun juga sebagai penguat silaturahmi. Bersahabat dengan macet? Why Not? Selamat Hari Raya!

sumber:http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/13/macet-saat-mudik-bisakah-dihindari/

Kamis, 02 Agustus 2012

Sepenggal Potret Kehidupan di dalam KRD Cicalengka – Padalarang



Naik kereta api adalah kesenangan anak-anak. Hari Minggu kemarin anak saya minta jalan-jalan naik kereta api. Di kawasan Bandung Raya ada kereta api komuter yang bolak-balik dari Padalarang ke Cicalengka. Jarak Padalarang ke Cicalengka cukup jauh, barangkali sekitar 30 km lebih. Kereta api sangat berjasa bagi para pelaju yang rumahnya di pinggiran Bandung tetapi bekerja di kota Bandung. Tarifnya sangat murah, hanya Rp1000 per orang. Hampir tidak bisa dipercaya harga karcis kereta api semurah itu baik untuk jarak jauh maupun jarak dekat. Kalau mau yang sedikit lebih nyaman bisa naik kereta api patas yang harga karcisya Rp4000 atau KA Baraya Geulis yang Rp8000. Namun harga karcis kereta api itu masih tetap jauh lebih murah dibandingkan naik angkot yang mungkin menghabiskan ongkos Rp15.000 lebih plus kemacetan yang menjadi-jadi pada hampir semua jalan di dalam kota dan pinggiran kota Bandung.


Harga karcis yang sangat murah itu sebanding dengan pelayanan kereta yang seadanya dan terkesan seperti kurang diperhatikan oleh PT KAI. Gerbong kereta sangat kotor, jorok, bau, dan penuh sampah. Para pedagang kaki lima, pengamen dan pengemis bebas masuk ke dalam kereta. Tetapi, justru disitulah seninya naik kereta api ekonomi, kereta api kelas rakyat. Kalau anda ingin melihat potret kehidupan bangsa ini, maka sesekali naikilah kereta api ekonomi. Sepanjang perjalanan banyak cerita kehidupan yang mengalir begitu cepat, bagaikan mosaik-mosaik yang direkatkan ke dalam sebuah bingkai.
Saya mengajak anak-anak naik kereta api ekonomi ini. Biarlah nanti mereka melihat seperti apa potret kehidupan di sana. Kami naik KRD ekonomi dari stasiun Kiaracondong, stasiun ini paling dekat dengan rumah saya. Stasiun Kiaracondong adalah stasiun kelas 2 yang dikhususkan untuk kereta api ekonomi.


Jam sepuluh pagi KRD ekonomi datang dari arah Cicalengka. Gerbong kereta sangat padat dengan penumpang. Penumpang berjejalan di dalam gerbong, sebagian besar hanya bisa berdiri. Banyak penunpang yang naik dan banyak pula penumpang yang turun. Saya pun bersama anak-anak hanya bisa berdiri. 


Meskipun padat, tetapi di dalam kereta selalu ada tempat bagi pedagang asongan, pengamen, dan pengemis untuk mencari rezeki. Naik kereta ekonomi berarti harus berlapang dada dengan mereka. Di sela-sela penumpang yang berdesakan mereka menarik-narik dagangannya yang diletakkan di atas gerobak beroda. Para pedagang itu sangat kreatif dengan menggunakan roda, sehingga barang dagangan tidak perlu dipikul. 


Kegigihan para pedagang asongan dalam menjajakan dagangannya patut diacungi jempol. Pernah ketika saya naik KRD sebelum ini, seorang pedagang salak mula-mula menawarkan 20 biji salak Manonjaya (Tasikmalaya) seharga sepuluh ribu. Tidak ada penumpang yang tertarik membelinya. Tetapi dia tidak putus asa. Ketika dia kembali lag, dia menawarkan salaknya lagi, kali ini 30 biji dengan harga tetap sepuluh ribu. Penumpang tetap tidak bergeming. Setelah bolak balik ke gerbong lain, dia datang lagi, kali ini dia menawarkan empat puluh biji salak seharga sepuluh ribu. Aha, akhirnya ada penumpang pun tertarik membelinya. Ha..ha..ha, kalau saja penumpang itu mau bersabar sedikit menunggu pedagang salak itu kembali lagi, mungkin jumlahnya bisa bertambah lima puluh biji salak dengan harga yang sama. Saya pun tersenyum geli membayangkan ulah pedagang salak ini.
Kereta terus melaju, tetapi jalannya tidak bisa cepat. Pada setiap stasiun antara kereta berhenti menaikkan dan menurunkan penumpang. Pengamen dan pedaganga asongan tak henti-hentinya lalu lalang. Tiba-tiba datanglah seorang anak muda yang berjalan dengan cara merangkak. Badan dan pakainnya kotor sekali. Dia membawa sebuah sapu. Sapu itu terus disorong-sorongkannya ke lantai gerbong untuk mendorong sampah yang berserakan. Sekali-sekali dia berhenti lalu melakukan gerakan dengan tangan seperti orang minta minum dan makan. Tahulah saya maksudnya, ternyata dia mengemis meminta uang buat minum atau makan. Kasihan sekali. Beberapa penumpang memberikan uang ala kadarnya. 


Stasiun Bandung, Ciroyom, Andir, Cimindi, Cimahi, Gadobangkong telah dilewati. Melewati stasiun Ciroyom kita akan menemui bau yang menusuk hidung. Bau busuk dari pasar ikan di Ciroyom memenuhi gerbong kereta yang terbuka. Akhirnya kereta sampai di stasiun Padalarang. Ini adalah stasiun terakhir tempat perhentian. Saya dan anak-anak segera turun. Tidak bisa berlama-lama kami di staisun ini, sebab kereta akan berangkat lagi ke Cicalengka. Saya segera membeli karcis yang harganya tetap seribu rupiah.
Baru turun lima menit ternyata kereta sudah dipenuhi penumpang. Ini suatu tanda bahwa antusiasme masyarakat urban untuk naik kereta api sangat tinggi, karena kereta api rakyat semacam ini tarifnya sangat murah dan bebas dari kemacetan.
Seperti dalam perjalanan pergi, dalam perjalanan pulang ini penumpang disuguhi kembali potret yang sama, yaitu lalu lalang pedagang asongan, pengamen dan pengemis. Kali ini penumpang tidak sepadat dari Kiaracondong sehingga para pengamen lebih leluasa dalam mencari makan.


Pada pedagang buah pun ikut meramaikan kereta dengan buah mangganya.


Hujan deras ikut menemani selama perjalanan. Kereta terus melaku menyinggahi stasiun-stasiun kecil. Penumpang naik dan turun. Hidup itu seperti perjalanan kereta api, ada yang datang dan ada yang pergi. Kita berangkat dari suatu tempat dan akhirnya harus berhenti untuk turun. Selama dalam perjalanan kita menemukan banyak manusia dengan aneka ragam tingkah polah dan nasibnya. Perguliran nasib hanya Allah yang tahu.

Senin, 30 Juli 2012

Bos KAI Dipuji Turis Asing, KA Taksaka Lebih Bersih dari KA di Polandia

Setiap akhir pekan, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Ignasius Jonan selalu berkeliling ke daerah untuk mengecek kondisi pelayanan dan kebersihan kereta dan stasiun.

  Dirut PT KAI, Ignasius Jonan, bersama turis asal Polandia

Pagi itu saat ingin menuju Yogyakarta dengan KA Taksaka, rombongan turis asing asal Eropa naik kereta tersebut. Jonan pun dengan aktif meminta pendapat orang asing ini soal pelayanan kereta api.

“Saya bertanya kepada salah seorang yang berasal dari Polandia. Pendapat dia, pelayanan dan kebersihan lebih baik dari KA di Polandia,” ujar Jonan kepada detikFinance, Sabtu (28/7/2012).

Diceritakan Jonan, para turis asing ini nyaman dengan layanan KA Taksaka sampai tertidur pulas sepanjang perjalanan menuju Yogyakarta. “Mereka (turis asing) bilang kereta bersih, pendingin baik, dan pelayanan ramah,” imbuh Jonan.

Jonan menyatakan, pihaknya sudah mulai memperbaiki satu per satu layanan dan kebersihan KA eksekutif dan KA bisnis. “Kereta makan menggunakan microwave dan sekarang termos panas digunakan sehingga lebih bersih dan mudah perawatannya. Tidak boleh pakai kompor lagi karena berbahaya kebakaran,” papar Jonan.

KA Taksaka yang berangkat dari Stasiun Gambir, Jakarta tersebut membawa 167 penumpang. Dari jumlah tersbeut, 91 penumpang merupakan turis asing dari Prancis, Austria, Belgia, serta Polandia.
(dnl/dnl)

*http://www.bumn.go.id/keretaapi/publikasi/berita/bos-kai-dipuji-turis-asing-ka-taksaka-lebih-bersih-dari-ka-di-polandia/*

Senin, 23 Juli 2012

Jalur Kereta Api Bergen-Oslo (by: Sigit Adinugroho)

Pesisir Kota Bergen, Norwegia

Pesisir kota Bergen 

Bergen adalah kota yang cantik, terletak di pinggiran fjord. Ia merupakan kota kedua terbesar di negara kaya sumber daya alam ini, dan merupakan salah satu tujuan turis yang paling ramai, terutama karena daerah selatan Norwegia memiliki banyak fjord yang padat dikunjungi wisatawan. Sebut saja antara Oslo dan Bergen, beberapa yang terkenal antara lain Sognefjord, fjord yang terbesar dan terpanjang di Norwegia dan kedua terpanjang di dunia. Sepanjang Sognefjord, ada beberapa cabang fjord lain yang tak kalah cantik, yaitu Nærøyfjord, Lærdalfjord, Ardalsfjord dan Lustrafjord. Selain itu, di antara Bergen dan Oslo terdapat beberapa tujuan pariwisata seperti Gudvangen, Flåm (dengan Flåm Railway-nya yang terkenal), Myrdal, dan Voss. Baik ketika musim panas maupun musim dingin, jalur kereta api Bergen – Oslo selalu ramai. Kalau di Indonesia, barangkali ini mirip dengan jalur Jakarta – Surabaya.

Stasiun Kereta Api di Bergen

Stasiun Kereta Api di Bergen

Kabarnya, jalur kereta api Bergen – Oslo adalah salah satu yang terbaik di dunia. Saya setuju.
Perjalanan dimulai pagi hari sekali di stasiun Bergen yang cukup sederhana. Stasiun ini hanya memiliki empat jalur peron (platform). Kereta hari itu dijadwalkan berangkat pukul tujuh pagi. Menurut rencana, kereta akan sampai di Oslo tujuh jam kemudian.
Gerbong kereta yang saya naiki sangat modern, barangkali salah satu yang paling modern di Skandinavia selama perjalanan saya di Denmark, Swedia & Norwegia. Interior bernada warna hijau toska dan coklat muda menyambut ketika pintu otomatis saya buka. Ternyata, di sini, untuk memasuki gerbong tidak harus mendorong pintu sekuat-kuatnya atau meminta bantuan petugas. Cukup tekan tombol lingkaran yang cukup besar, pintu terbuka dengan sistem hidraulik yang mengesankan. Jarak antara platform dan gerbong terlalu tinggi? Jangan khawatir, selain pintu membuka, sandaran kaki pun turun untuk membantu penumpang menaiki gerbong. Serasa seperti masuk ke pesawat luar angkasa.
Saya sempatkan berkeliling dari gerbong ke gerbong. Ternyata ada fitur lain yang mengesankan dari kereta api ini. Setiap gerbong dilengkapi display elektronik yang menyajikan informasi tujuan dan stasiun. Di bagian pintu masuk, terdapat tempat sampah, dan kompartemen penyimpanan barang besar seperti koper. Mereka yang punya koper besar tak perlu bersusah payah mengangkatnya ke kompartemen di atas tempat duduk. Jalan sedikit lagi, kita sampai di family car. Bukan, bukan mobil keluarga. “Car” di sini artinya gerbong. Gerbong keluarga ini dirancang khusus untuk penumpang yang membawa keluarga muda, dalam hal ini ayah, ibu dan anak-anak. Di sini, ada ruang bermain anak, sebuah meja di tengah yang dikelilingi tempat duduk sofa nan nyaman, lalu ada televisi di atasnya. Anak-anak bisa bermain puzzle atau robot-robotan, sementara orang tuanya menonton televisi, mungkin sambil menikmati makanan ringan.
Tak lama setelah itu, kereta bertolak. Pada setengah jam pertama, kereta masih berusaha keluar dari kota Bergen. Hari itu tidak hujan, syukurlah (sudah dari kemarin hujan dan suhu menjadi lebih dingin). Pemandangan di luar sangat menarik. Pertama, Bergen memang kota yang “bertengger” di fjord, sehingga kontur tanahnya sangat dinamis. Kereta bisa melintas di atas bukit, lalu masuk ke dalam terowongan. Di kejauhan, permainan latar depan dan belakang membuat saya berimajinasi saya sedang berada di rangkaian model kereta api. Tak lama kemudian, lanskap yang tadinya hijau, berubah menjadi sebaran putih karena salju mulai turun. Saya sempat bertanya, kenapa salju turun di musim gugur? Ah, belakangan saya sadari, kami mulai menanjak. Kabarnya, ini adalah jalur kereta api dengan level permukaan paling tinggi di dunia, sekitar 1.222m di atas permukaan laut!

Lanskap Tertutup Salju di antara Bergen dan Oslo

Lanskap seketika tertutup salju ketika mendaki ke elevasi tinggi

Masih juga belum selesai terpana, saya sudah disuguhi lanskap yang lebat tertutup salju. Wow! Salju tebal, dengan hujan salju. Ini spektakuler dan tak biasa bagi mata saya. Saya sibuk dengan kamera karena takut sekali kehilangan momen. Karena mengambil foto sulit, saya aktifkan saja mode videonya agar seluruhnya tertangkap.
Kereta sesekali masuk terowongan. Fakta menarik lain: ada 182 terowongan selama perjalanan dari Bergen ke Oslo. Tentu saja, saya tak sempat menghitung.
Jika Anda punya waktu, ketika kereta berhenti di stasiun Myrdal, turun dan naikilah The Flåm Railway ke sebuah kota kecil di pinggiran Aurlandfjord, Flåm. The Flåm Railway adalah jalur kereta api yang melalui tebing terjal, kabarnya melalui pemandangan yang sangat elok, satu jam lamanya dan beroperasi baik ketika musim panas ataupun musim dingin.
Ada beberapa kegiatan penting yang bisa dilakukan di antara Bergen dan Oslo, antara lain wisata alam ke Hardangervidda National Park antara stasiun Gol dan Gelio, wisata alam di Hallingskarvet di Finse, stasiun dengan elevasi tertinggi di jalur ini, lalu tentu saja Flåm, dan Voss untuk olahraga musim dingin seperti ski dan sledding (Tahukah Anda, kalau kata “ski” itu adalah istilah dari bahasa Norwegia?).

Danau di Pinggir Rel Kereta Api Bergen-Oslo

Salah satu pemandangan elok selama perjalanan

Kalau pun Anda tak berhenti, memang benar, sepanjang perjalanan pandangan kita dimanjakan dengan alunan geografis yang silih berganti, mulai dari tatanan fjord di Bergen, mendaki dataran tinggi yang mulai ditutup salju, melewati gunung putih yang membahana, melihat sejauh mata memandang rumah-rumah dan gedung-gedung kayu yang entah digunakan oleh siapa namun menjadi latar depan yang kontras dengan putihnya salju, keluar dan masuk terowongan, turun lagi dan bertemu dengan hamparan luas kehijauan. Akhir dari perjalanan sudah tiba ketika rangkaian gerbong memasuki daerah urban. Sekedip mata, saya sampai di stasiun utama Oslo yang hiruk-pikuk.